|
Last Update : Saturday, 14/01/2012 Sumber : Kisah Jepang Klasik Karena kebohongannya itu, pada kehidupan berikutnya sang perempuan dihukum dengan menjadi seekor burung. Dari kepala sampai ekor burung tersebut berwarna merah. Demikian juga dengan dada dan perutnya, semuanya berwarna merah. Ketika burung tersebut minum air di sebuah sungai, ia terkejut....
Last Update : Wednesday, 28/12/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik Kejadian ini membuat dewa-dewa di kerajaan langit sedih dan marah. Mereka akhirnya mengutus puluhan ribu bala tentara untuk mengusir raksasa jahat tersebut. Bala tentara tersebut diperintahkan untuk......
Last Update : Thursday, 22/12/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik “Oh, mungkin kucing itu mengundang kita untuk mampir di kuil tua itu. Mungkin dia akan menghidangkan tah hangat untuk kita.” Kata Naotaka berkelakar.
Last Update : Thursday, 15/12/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik “Tolong hentikan! Jika kalian meracuni mereka, semua ikan yang masih kecilpun akan ikut mati karena racun tersebut.
Last Update : Thursday, 08/12/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik "Terima kasih ya." kata rubah tersenyum senang.
Karna ditunggu tidak muncul-muncul akhirnya rubah sudah kehilangan kesabaran. Dibubuhkannya ramuan cabe itu ke punggungnya, dan....
Last Update : Friday, 02/12/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik “Ibu juga tidak ada. Ibu sejak kemarin dengan membawa tiga gengam dedak ke danau Biwa?” Tanya laki-laki itu lagi.
"Untuk apa membawa tiga genggam dedak ke danau Biwa?" tanya laki-laki itu lagi.
Last Update : Tuesday, 29/11/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik Sang siput makan nasi sangat sedikit. Itulah mengapa, bahkan ketika menginjak usia 12 tahun pun tubuhnya tak kunjung besar. Dan yang lebih menyedihkan tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya.
Last Update : Thursday, 17/11/2011 Sumber : Kisah Jepang Klasik “wah, baik sekali mereka”
“kamu juga bisa mencobanya. Besok pagi, pergilah ke jalan di lereng bukit itu, lalu berpur-puralah pingsan di tengah jalan. Kalu pedagang itu lewat, mereka akan mengundangmu makan-makn dirumahnya.” Kata sang rubah memberi saran.
Page | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 |
|